Langsung ke konten utama

Pasar Horas Pematang Siantar



 Pasar Horas Pematangsiantar lahir dari pertumbuhan penduduk dan kegiatan perdagangan pada 1958-1960, yang menyebabkan banyak pedagang kaki lima, termasuk kaum ibu, membutuhkan tempat berjualanAwalnya pasar ini bernama Pasar Trikora I dan II, lalu setelah kebakaran pada 1980 dan pembangunan kembali dengan desain modern, namanya diubah menjadi Pusat Pasar Horas pada 12 Desember 1980, yang kemudian menjadi Pasar Horas. 

Berikut adalah kronologi asal mula Pasar Horas: 
  1. 1. Pertumbuhan Penduduk dan Perdagangan (1958-1960):
    Peningkatan jumlah penduduk di Pematangsiantar mendorong munculnya banyak pedagang, terutama kaum ibu, yang mencari tempat untuk berjualan.
  2. 2. Pembangunan Awal (Akhir 1961):
    Pemerintah daerah membangun kios-kios dan toko di sekitar lokasi, yang kemudian diberi nama Pasar Trikora I (untuk balairung awal) dan Trikora II.
  3. 3. Kebakaran (27 Juli 1980):
    Pasar Trikora I mengalami kebakaran, sehingga para pedagang harus ditampung sementara di Pasar Dwikora Martoba.
  4. 4. Pembangunan Pasar Baru (Desember 1980):
    Pemerintah memutuskan untuk membangun pasar yang lebih modern dan permanen di lokasi Pasar Trikora I dan Trikora II.
  5. 5. Perubahan Nama Menjadi Pasar Horas (12 Desember 1980):
    Dengan dikeluarkannya SK Walikota Nomor:290/WK.29-12-1980, nama pasar tersebut resmi diubah menjadi Pusat Pasar Horas.
  6. 6. Peresmian (6 Agustus 1983):
    Pembangunan selesai dan pasar diresmikan oleh Gubernur Sumatera Utara, Kaharuddin Nasution.
Nama "Horas" sendiri berasal dari ucapan khas dalam budaya Batak Toba yang berarti "selamat" atau "sejahtera", mencerminkan identitas etnokultural daerah tersebut. 

Wikipedia


Pasar Horas, atau Pasar Horas Jaya dikenal secara lokal sebagai Pajak Horas, adalah pasar tradisional utama yang terletak di pusat Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara, Indonesia.[1] Pasar ini berperan sebagai pusat perdagangan masyarakat lokal dan merupakan salah satu simbol budaya dan ekonomi yang penting bagi kota tersebut. Kata "Horas" sendiri berasal dari ucapan khas dalam budaya Batak Toba yang berarti "selamat" atau "sejahtera", sehingga nama pasar ini juga mencerminkan identitas etnokultural daerah.

Foto suasana di Pasar Horas, Gedung IV, Pematangsiantar, diambil pada tahun 2025.

Sejarah

sunting

Pasar Horas telah menjadi bagian dari denyut ekonomi Kota Pematangsiantar sejak masa kolonial, ketika wilayah ini berkembang sebagai pusat perdagangan dan administrasi di kawasan dataran tinggi Sumatera Utara. Seiring pertumbuhan kota, pasar ini mengalami beberapa kali perluasan dan penataan, termasuk pembangunan gedung-gedung permanen yang difungsikan sebagai kios dan los bagi para pedagang.[2]

Namun, sejak dekade 1990-an hingga sekarang, pasar ini menghadapi berbagai tantangan modernisasi. Pemerintah kota sempat menggalakkan upaya revitalisasi melalui pembangunan gedung-gedung baru, namun tidak seluruhnya berhasil mengatasi permasalahan struktural seperti kemacetan, keamanan, dan ketidakteraturan pengelolaan.[1]

Lokasi dan Struktur

sunting

Pasar Horas terletak di kawasan strategis pusat kota, di sekitar Jalan Sutomo dan Jalan Merdeka. Kompleks pasar ini terdiri dari beberapa gedung, termasuk Gedung IV, yang merupakan salah satu bangunan terbesar dan paling padat aktivitas jual-belinya.[3]

Pasar ini melayani berbagai kebutuhan masyarakat, mulai dari bahan pangan, pakaian, barang rumah tangga, hingga perlengkapan elektronik. Aktivitas jual beli berlangsung hampir sepanjang hari dan meningkat pesat pada akhir pekan 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pasar horas pematang siatar